Rabu, 09 Januari 2013

Serenity at the Edge

Taman Juanda - Dago Bandung
Di suatu sore yang sejuk, Musafir berkesempatan mengunjungi Taman Juanda di Dago - Bandung. Kunjungan ini adalah yang kedua kalinya setelah bertahun-tahun yang lalu. Masih seperti dulu, tidak rapi dan teratur adalah kesan pertama yang dirasakan. Walau demikian merasakan semilirnya angin sepoi-sepoi sejuk di tengah-tengah gemerisik suara daun menyapa adalah suatu kemewahan tersendiri bagi yang terbiasa akan hiruk pikuk kehidupan perkotaan. Suasana ini membawa keteduhan hati sehingga ingin berlama-lama duduk menikmatinya. Sebuah gubug kayu di tepi jurang menaungi Musafir merenung dalam keteduhan ini.



Banyak yang mengira serenity itu adalah suatu keadaan yang hening tanpa suara sedikitpun. Kata serenity itu sendiri berbeda arti dengan quite atau silence. Salah satu kamus mengartikan serenity sebagai the absence of mental stress or anxiety. Suasana hati yang terbebas dari tekanan dan kekuatiran. Karena itu para pembaca, janganlah mengira di taman tersebut sepi dan hening, sebaliknya ada penjual teh botol yang menawarkan dagangannya, ibu-ibu menawarkan jagung bakarnya, suara gemerisik dedaunan, suara menderu motor yang entah darimana aturannya bisa masuk dalam taman, dan suara mengerik jangkrik riuh rendah menemani Musafir kala itu. Belum lagi rayuan guide-guide penduduk lokal yang menawarkan jasa menjadi pemandu masuk ke Gua Jepang yang memang berada dalam taman itu.

Musafir belajar akan bagaimana mengelola suasana hati. Lingkungan sekitar hanyalah faktor pendukung dan bukan penentu, sehingga tak heran apabila ada yang mengatakan di tengah-tengah keramaian, hatiku tetap tenang teduh. Jadi apa yang menjadi penentu kalau begitu?

Yang menjadi penentu adalah kepercayaan atau iman kita. Dimana hati kita dilabuhkan? Bagaikan kapal yang terombang-ambing ombak besar, jika kapal tersebut dilabuhkan dengan sauh yang kuat, maka tetap aman walau suasana sekitar begitu riuh rendahnya.

He got up and rebuked the wind and the raging waters; the storm subsided, and all was calm. “Where is your faith?” he asked his disciples.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar